The Moon and The sun
Friday, December 26th, 2008In the light of the moon, likable Harlequin
Knocked on the brunette’s door, and she responded immediately
Who’s knocking like that? And he replied
Open your door, for the God of Love!
debussy-inspired by twilight-
Petang, Mungkin seperti itu gambaran pada malam itu, langit sangat gelap, segelap pemilik sepasang mata elang, bau tanah begitu menusuk, bau tanah tipical ketika hujan membasahi bumi pertama kali, jam menunjukkan pukul 6.22, entah mengapa. Masih bisa terlihat gambaran postur tubuh perempuan itu, sedih, galau, emosional, labil, begitu banyak gambaran yang terlihat dari wajahnya yang sendu, yah mungkin “sendu” adalah kata yang tepat, jiwanya tidak ada dalam tubuhnya, hanya gerakan semata yang membuatnya melakukan rutinitas itu, mengesap dalam-dalam sebatang rokok putih, rokok mild, menghisapnya begitu dalam sehingga orang akan mengira asap putih itu tidak akan dikeluarkannya lagi. siapakah perempuan ini???
Perempuan itu memandangi hujan, dan terus memandangi hujan bagaikan berharap hujan deras kan berhenti dan digantikan oleh pelangi? siapakah perempuan itu, seakan-akan masih mencari akan bulan diantara derasnya hujan, ataukan berharap akan matahari dalam serangan hujan yang kelihatannya tidak akan berhenti dalam hitungan menit.siapah perempuan ini?
sebuah handphone, asbak penuh dengan belasan puntung, dompet, 2 bungkus rokok dan pelengkapnya sebuah lighter, kopi dingin yang tidak tersentuh, dan berlembar-lembar kertas surat yang berhamburan disekitar meja itu dengan pulpen di atasnya, siapakan perempuan ini?
dia sangat biasa, mungkin bisa dikatakan tidak terlihat diantara pengunjung cafe yang sudah berdandan habis-habisan malam minggu itu, dia memiliki mata yang tajan, hidung mungil, serta bibir tipis tanpa beralaskan make-up, hanya bedak untuk menyamarkan wajahnya yang pucat, mungkin bukan pucat tapi sendu, sedikit pemerah pipi tetap tidak akan bisa menyembunyikan kenyataan ada kepahitan dalam kilatan matanya. siapakah perempuan itu?
Bahasa tubuhnya tidak berkata banyak, namun yang menarik adalah caranya menghisap dan mengeluarkan asap rokok, sepertinya asap rokok yang berbicara, berbicara tentang majikannya, berbicara mengapa majikannya diam seribu bahasa, memandang hujan, tidak ada airmata, tidak ada kebencian, tidak ada kesedihan, tidak ada apa-apa, sperti layaknya botolnya yang ditinggalkan kosong, siapakah perempuan itu?
Lagi lagi asap itu berteriak, menyatakan belasungkawanya, menyatakan empatinya, menyatakan bahwa selama majikannya mau asap akan terus bersamanya, membuat kabur semua ingatannya, membuat kabur semua perasannya, menenggelamkan dirinya dalam lautan ketagihan, membuat majikannnya tidak merasakan nyeri, membuat majikannya tidak merasakan luka, membuat majikannya utuh sama seperti dulu, siapakan perempuan itu?
tiba-tiba dimatikannya rokok itu, dan dia mengambil selembar kertas baru, dan menulis dengan keteguhan hati, dan juga dorongan yang kuat untuk tidak lagi meremas kertas itu.menulisnya dengan keyakinan teguh akan apa yang dilakukannya.
==================================================
Dear Bulanku…..
Aku disini menantimu, kulebarkan sayapku sehingga kau bisa melihatku, membawaku terbang tinggi bersamamu, kulebarkan kunyatakan diriku sehingga kau bisa melihatku, bawa aku sekarang, sekarang juga sebelum aku berubah pikiran…
Tapi kau tak datang, aku tau sebabnya karena kau tidak bisa menemukanku, kau tidak tau aku dimana, terlalu berat bulan, terlalu berat untuk menemuimu sekali lagi kemudian meninggalkan mu, terlalu berat beban itu,…
Biarlah aku menghilang, mencari secercah harapan diantara hujan deras ini, biarlah aku menjadi bayangan yang mengikuti mu namun tak bersamamu.
biarlah cinta ini tak memiliki, aku mencintaimu bulan, sangat.
===================================================
dia melipat surat itu, memasukkan dalam amplop dan pergi meninggalkan surat itu, pergi meninggalkan semuanya, hanya pergi dengan dirinya.pergi dalam hujan, berjalan dengan santai, berharap pertir akan menyambarnya dan menghanguskan dirinya, karena dalam dirinya dia tau, dia bukan manusia, dia bukan seperti yang terlihat, dalam dirinya tau bahwa dia adalah sang pemangsa, pemakan segala yang bergerak, dan tak pernah ada suatu saat dalam dirinya dia merasa begitu “hidup” ketika bersama sang “bulan”, manusia yang sangat dicintainya, begitu dicintainya sampai sakit menjalar keseluruh tubuhnya, cintanya akan selalu membara dalam hatinya, tak akan pernah hilang ditelan waktu, sakitnya tidak akan pernah berhenti karena itu merupakan suatu pertanda bahwa dia pernah mencintai dan dicintai begitu dalam…
ps : hehehehe, inspired by vampire. duh romantis buanged