SERUPA TAPI TAK SAMA
Monday, June 25th, 2007Semua tak sama, tak pernah sama ===> Padi
Hehehe, Jam 1.55 , gue di kamar ngeblog, dengan keadaan pilek, gue ga bisa tidur, mikirin sesuatu yang gue aneh.. "kenapa orang bilang perbedaan itu menarik" dan "kenapa sesuatu dihadirkan untuk melengkapi " gini ceritanya :
Pasangan :
cowo : perfecto, seorang pemikir, agressif, ambisious, kharismatik, akan menjadi seseorang yang besar nantinya
cewe : seorang perfectionist, agressif, ambisious, memiliki cita-cita yang besar
Akhir yang bahagia, mereka berdua akhirnya mengikat sebuah janji untuk bersama, dalam sebuah komitment ( uhuyyyy, sesuatu yang indah, sesuatu yang semua orang memang inginkan, bahwa hal itu sudah seharusnya terjadi untuk pasangan tersebut ), Eitsssssssssssss…. berhenti disitu dulu.. ternyata, dalam komitment saling setia itu, semuanya menjadi apa yang sebenarnya masing-masing pihak sudah meramalkan
1. No more I love you, benarkah seiring dengan sudah saling mengenal, kata-kata itu bisa terhapuskan begitu saja? benarkah apa yang dikatakan oleh orang tua kita mengenai apa yang penting, ternyata hanya basa basi semacam bumbu dalam berpacaran?
2. Perhatian, yah yah yah, memperhatikan, take care, selalu menjadi isu, siapa yang lebih banyak memperhatikan, atau minta perhatian, siapa yang lebih sibuk dan siapa yang tidak, tapi apakah hal itu benar-benar penting?
3. Simbiosis Mutualisme, Benarkah ketika hubungan itu saling menguntungkan, selama masing-masing pihak mau menjalankan hal itu, toh kita adalah seorang oportunis? Tanya kenapa kita harus malu? gini lebih populernya " gue ada pas lo ada, en elo ada pas gue ada "
Kategori hubungan itu apa sih? Gue dari dulu binggung dengan orang yang ingin membangun sebuah komitment, dan mereka hanya berenti di tengah jalan, menjilat kembali apa yang mereka agung-agungkan soal komitment.
Apa lebihnya sebuah hubungan dengan komitment ataupun tidak dengan komitment, kalo memang sulit untuk berkomitment, Huaaaahh Pusing, terutama seseorang yang berpikir mengenai komitment yang sudah banyak rusak belakangan ini.. Toh ketika komitment itu tidak berhasil masih ada komitment lainnya yang bisa dibuat, " bukan begitu kisah Om bembi dan Mbak Mayang?"
Aneh memang, ketika cinta menjadi sebuah lembaga, sebuah otorisasi, dan karena sudah diotorisasi makna cinta menjadi luntur, percayakah orang tentang sebuah lembaga pernikahan? benarkah cinta harus didasari pernikahan sakral? apa yang disebut sakral itu? karena dilaksanakan di Gereja, Mesjid, Pura, Vihara? itukah sakral?
Hehehe… Hanya pendapat dari orang yang ga tau soal cinta, menurut gue cinta itu cinta, mencintai cinta lebih penting drpada apapun. mungkin dengan merasa kita berkomitment kita sudah menjadi satu langkah lebih jauh dalam urusan asmara, tapi jangan salah Komitment dan Cinta, ada yang mengatakan hal itu serupa tapi sebenarnya Tidak sama, ibaratnya sebagai 2 sisi mata koin, tidak pernah bisa dipisahkan tapi masing-masing tidak bisa menilai satu sama lain mengenai mana yang lebih penting..
Ps:
Pelajaran setelah 7 Tahun mendalami penelitian soal komitment :
1. Komitment = bukan cincin yang melingkar di jari
2. Komitment = bukan pacaran
3. Komitment = bukan janji untuk hidup besama
4. Komitment = bukan sekedar satu level yang lebih serius
5. komitment = yang pasti bukan sekedar seks
[hehehehe cocok ga kalo gue serius ngemengnya] mwach