I want to live like animal…. ( the animal songs, savage garden )
RAMEEEEEEEEEEEEEEEEE…. CROWDED… hembusan rokok mentol dimana-mana, baru beragam ferfume ( dibaca parpum , mulei dr hugo boz, klinik hepi, piktoria sikrit, de el el… Ini adalah keadaan nyata o la la cafee DJT = djakarta teater.. bisa ga sih membayangkan ribuan orang dengan manisnya terhampar dalam sebuah areal 10x 10 ( asal nebak.. hehehe ) dan mereka dengan suksesnya tidak merasakan perbedahan hawa panas yang menyelimuti daerah itu bersama dengan hiruk pikuk dari tetangga sebelah PH - sebuah restoran cepat saji yang menjual Pizza dengan waiting list melebihi antrian sembako..
Tapi itulah gayah hidup untuk memenuhi aura birahi masyarakat metropolis yang hedonis, dengan bermodalkan teng-top dengan tali bra mencolok, dandanan ibarat artis dangduts mau melemparkan pantat nan aduhai ke kursi-kursi kayu yang ada disana, alhasil apa? keringetan dan mule bercampur sama bau parpum yang sudah teronggok dibagian leher.. Puwassss??
ahhhhhhh… gue sampe binggung apa sih yang dicari disana.. pribadi-pribadi yang mengganda?? perempuan cantik?? lelaki metroseksual yang lagi digembar-gemborkan sekarang ini?? hihihih… baju ketat, terlihat lekukan dada berbulu?? aihhh mateee.. bukan horni yang ada antiklimaks..kekekeke..
kronologis :
1. masuk ke olala pukul 9 malem minggu, sofa merah dan hijau udah penuh dengan manusia yang membawa kartu dan dari 10 orang yang ada di meja hanya 2 yang beli minuman, itupun lemon tea…
2. ribuan mata memandang sambil bertanya : hmmm apakah kamu lekong? cekong? bencong? banci? yang bisa jadi gebetan untuk mengobati mata yang lapar? bagaimana keadaan bodimu yang seksi?putih? ibarat nutrijell yang kenyal-kenyal di mulut.. *huwakkkkk*
3. menuju mejaaa panjang kebesaran o la la, dengan roti yang bisa memukul maling.. lalu suguhan bermacam-macam salad yang tentunya menggemukkan hehehehe, lalu mulailah memesan 1 cafee latte dengan gula diet ataupun i hot chocolate dengan total tagihan 50.000 rupiah * hiks *
4. perjuangan panjang menuju bangku kosong dengan melihat bibir-bibir manusia yang menhisap rokok kemudian seperti menyemburkan ke tiap sel-sel rambut yang habis gue keramas.. mengapa..oh mengapaa… kejaaammmnya kehidupan metropolis ini…
5. mendapatkan tempat duduk, tapi harus menggunakan toa untuk bicara sama temen, dan akhirnya, caffe latte tadi lebih baik diganti dengan segalon aqua, karena kerongkongan jadi seret lantaran cape karena tereak-tereak..
mata nanar mengedarkan pandangan ke sekeliling, cewe-cewe eksekutip dengan notebook, laki-laki cantik dengan camera digitalnya, perempuan-perempuan pemangsa dengan tatapan tajamnya, anak abg dengan obrolan yang masih merupakan tanda tanya apakah mereka benar-benar bisa mendengarkan dengan jelas, ditambah lagi dengan alunan musik jazz dr cafe yang bahkan sudah ditelan dengan bising suara jalanan dan manusia-manusia hedonis..
kenapa saya berada disana? kenapa saya masih tetap datang kesana tiap malam minggu melihat mengamati mengagumi anomali sosial tersebut… kenapa?? karena saya juga mahluk HEDONIS itu…birahi kehidupan yang tidak pernah mati… o la la c’est la vie……hahahahahahhahahaha.. Brengsekkkkk kecanduan sosial yang menggerogoti kantooonggkuuuu…… Ngook